Go to Top

Pikiran Rakyat

Menghambat Bakteri Mencegah Disentri

JAMUR bukan hanya bisa ditemui Kawan Kampus dalam makanan asal “Negeri Sakura” atau bahkan identik biang kerok gatal-gatal yang sering menyerang kulit. Ternyata, jamur kombucha atau kombinasi jamur, ragi, dan bakteri menjadi pencegah penyakit.

Bukan untuk dimakan, bukan pula menjadi jamur patogen atau penyebab penyakit. Jamur kombucha, jamur asal Asia Timur justru menjadi penyelamat untuk menghambat pertumbuhan bakteri di saluran pencernaan yang dapat menyebabkan diare, disentri, dan tifus.

Kawan Nurcahyowati, mahasiswi Jurusan Farmasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jenderal Ahmad Yani Cimahi pada tugas akhirnya tahun 2008 ini tengah meneliti khasiat keunggulan jamur tersebut. Nurcahyowati menggunakan substrat atau media tempat tumbuhnya kombucha dengan menggunakan sari mengkudu.

Buah mengkudu pun telah dikenal orang berkhasiat untuk menyembuhkan beberapa penyakit. Dalam mengkudu sendiri terkandung anthraquinone yang berfungsi sebagai laksan/pencahar dan berperan juga sebagai zat antibakteri yang dapat membunuh bakteri seperti Escherichia coli, yang bisa menyebabkan diare. Mengkudu pun mengandung senyawa “terpenten” yang berfungsi sebagai peremaja sel, damnacanthal sebagai pencegah perkembangan sel kanker, xeronine dan antioksidan sebagai penetral radikal bebas.

Dosen pembimbing Nurcahyowati, Putranti Adirestuti menuturkan proses pembuatan minuman berkhasiat tersebut. “Sari mengkudu yang diperoleh dari hasil jus yang di-blender diberi tambahan gula dengan komposisi 10% dari banyaknya sari mengkudu,” kata dia. Gula sebagai nutrisi bagi kombucha dimasukkan ketika proses fermentasi berlangsung. Setelah itu dipanaskan selama 5-10 menit dan dituangkan ke dalam gelas, kemudian biarkan sari mengkudu didinginkan dengan suhu kamar.

Selesai tahap tersebut, dimasukkanlah cairan kombucha sesuai dengan takaran. Pada penelitian tersebut, Nurcahyowati mengambil lima persen jamur kombucha dari hasil fermentasi teh manis kombucha. Gelas yang sudah terisi sari mengkudu dan jamur kombucha tersebut ditutup rapat dan biarkan dalam suhu kamar. Selama proses fermentasi bahan-bahan tersebut harus terbebas dari goyangan, bahkan dilarang untuk memindahkan tempatnya. Hal itu akan memengaruhi hasil menjadi tidak sempurna.

“Hasil efektif diperoleh pada hari ke-20,” kata Putranti. Dalam hasil penelitian tersebut, bentuk jamur seperti “pancake” yang berwarna putih (pucat) dan bertekstur kenyal seperti karet dan menyerupai gel. Jamur tersebut terdiri dari gelatinoid serta membran jamur yang liat dan berbentuk piringan bulat serta hidup dalam lingkungan nutrisi teh manis yang akan tumbuh secara berulang sehingga membentuk susunan piringan berlapis. Piringan pertama akan tumbuh pada lapisan paling atas, kemudian disusul oleh pertumbuhan piringan berlapis-lapis dibawahnya yang akan menebal. Kultur kombucha dapat terletak mengapung di permukaan cairan atau kadang dijumpai tenggelam di dalam cairan teh kombucha.

Hasilnya setelah diuji coba laboratorium, kandungan antimikroba pada minuman kombucha mampu menghambat pertumbuhan Shigella sonmei penyebab disentri, Escherichia coli atau bakteri penyebab diare, dan Salmonella typhi penyebab tifus. “Dapat diminum langsung dengan dicampur air putih biasa,” kata Putranti. Selain itu, bisa dikonsumsi dengan menambahkan es batu atau perasa seperti esens buah-buahan atau sirup.

Putranti pun menambahkan proses pembuatan minuman jamur kombucha tersebut dinilainya lebih mudah dibanding dengan pembuatan susu yoghurt. “Kalau untuk yoghurt membutuhkan suhu tetap 40 derajat Celsius karena sifat bakterinya thermofilik atau bakteri yang tergantung pada panas, sedangkan jamur kombucha memerlukan suhu kamar pada proses fermentasinya,” ungkap dia.

Selain menggunakan sari mengkudu, kata dia, bonggol nanas dan air kelapa pun bisa dijadikan substrat atau media minuman jamur kombucha tersebut. ***

novianti nurulliah

[email protected]

Web Analytics