Go to Top

Majalah Trubus

Jamu Dipo

Trubus Kamis, 15 Februari 2007

Lima belas tahun lalu terkuak fakta, jamur dipo mampu mengendalikan diabetes mellitus. Toh, kebenaran itu diragukan lantaran belum ada satu pun penelitian ilmiahnya. Kini, sepuluh tahun terakhir, sejumlah riset memangkas keraguan itu.Di era 90-an Trubus mencatat, sekitar 30 jenis penyakit seperti rematik, asam urat, impotensi, prostat, kanker, dan AIDS takluk oleh jamur itu. Setiawan Dalimartha, pakar obat tradisional, ketika diwawancarai Trubus menyatakan vitamin dan asam amino pada helden pilz-sebutan jamur dipo di Jerman-menghilangkan rematik, pegal, dan lesu. Namun, khasiat menyembuhkan kanker, lever, maupun diabetes masih sebatas pengalaman beberapa orang saja. Yang memperbaiki kinerja pankreas memacu produksi insulin juga belum ditemukan, kata Setiawan.

Hal senada disampaikan Prof Dr Sumali Wiryowidagdo, ahli farmasi Universitas Indonesia. Ketua Pusat Studi Bahan Obat Alam UI itu menyatakan sifat jamur dipo mirip yogurt lantaran proses pembuatannya sama. Melalui 8 hari proses fermentasi, koloni bakteri berkhasiat positif berkembang biak dan menghasilkan produk metabolisme baru. Namun, jenis dan produk bakteri serta ragi yang bersimbiosis tak diketahui jenis dan toksisitasnya.

AsamSelama 10 tahun berikutnya, khasiat kombucha tetap menyisakan keraguan. Titik terang muncul pada 1996. Banyaknya kasus penyembuhan penyakit oleh jamur yang dikenal sejak 425 M itu menggerakkan para peneliti mengungkap misteri. Tahun itu, Dr Philipe J. Blanc, periset Ohio State University, Amerika Serikat, mulai meneliti misteri di balik lempengan mirip nata de coco itu seperti yang dilansir Bioteknologi Letter Journal.

Jamur dipo mengandung asam-asam yang sulit ditemukan pada bahan makanan dan minuman lain. Sebut saja, asam glukonat, asam glukoronat, asam laktat, asam asetat, asam glukonolakton, asam D-glukarat, asam 2-keto-D-glukonat, dan usnat. Kombucha juga menghasilkan berbagai macam vitamin C dan kelompok vitamin B lengkap dari hasil sintesis jamur terhadap teh tempatnya bertumpangsari.

Hal serupa disampaikan C J Greenwalt, periset Departemen Ilmu Pangan di Cornell University, Amerika Serikat, pada 1997.

Riset yang dikutip oleh Journal of Food Science and Nutrition itu mengungkap, jamur teh terdiri atas bakteri-bakteri yang bersimbiosis dengan ragi. Jenis bakterinya Acetobacter xylinum, A. xylinoides, A. pasteurianus, dan Bacterium gluconicum. Sedangkan raginya berupa Schizosaccaromyces pombe, S. ludwigii, dan S. cereviseae. Cara kerjanya, Acetobacter xylinium mensintesis gula sehingga terbentuk jaringan selulosa yang mengapung. Ragi mengkonversi sukrosa yang diperoleh dari gula dalam teh menjadi fruktosa dan glukosa, pada akhirnya menghasilkan etanol.

KontaminasiPembuktian efek antikanker kombucha dilakukan oleh Central Oncological Research Unit, Rusia dan Russian Academy Moscow pada 1998. Dua kelompok tikus albino diinjeksi senyawa penyebab tumor. Lantas, satu kelompok diberi asupan kombucha 20 ml/kg sedangkan kelompok lainnya tidak mengkonsumsi apa pun.

Hasilnya, konsumsi kombucha selama 3 minggu menghambat tumbuhnya sel tumor. Para periset menyimpulkan, tak hanya polifenol yang berpengaruh. Konsumsi rutin harian meningkatkan kekebalan tubuh dan meningkatkan produksi interferon yang mematikan sel kanker. Interferon dihasilkan asam glukoronat saat fermentasi.

Namun, asupan teh jamur berlebihan bisa berbahaya bagi tubuh. Sebab, polifenol berlebih dalam tubuh mengikat mineral dan mengakibatkan defisiensi. Hal itu memberatkan kinerja hati mengurai makanan dan berujung pada kerusakan. Penelitiannya dilakukan Perron A dalam Analysis of Emergency Medicine Journal pada 1995.

Kelebihan polifenol terjadi karena kontaminasi saat mengembangbiakkan teh jamur. Itu sebabnya wadah harus gelas. Wadah plastik menyebabkan zat-zat berbahaya terserap selama fermentasi. Tak jarang, teh yang terkontaminasi tak terlihat secara kasat mata.

Jerih payah para ilmuwan itu menjadi titik tolak untuk mengikis keraguan kombucha. Di balik khasiat itu, terbukti ada ancaman tersembunyi yang mengundang bahaya bagi kesehatan. (Vina Fitriani).

Web Analytics